Negara Maju dan Kaya Harus Siap Belajar dari Negara Berkembang


Siapa yang bakal menyangka jika krisis keuangan dan ekonomi global yang diawali tahun 2007 lalu telah membuka babak baru hubungan antara negara berkembang dengan negara maju (12/10). Jika sebelum krisis negara-negara maju dan kaya tampak jumawa dan berada di atas angin, merasa yakin dengan kekuatan ekonominya, kini mereka mulai menyadari pentingnya belajar dari pengalaman negara-negara berkembang yang relatif berhasil selamat dari badai krisis ekonomi. 

Tiga tahun krisis keuangan global pecah di AS dan menyebar dengan parah ke seluruh dunia, negara-negara maju mulai membuka mata dan hati bahwa negara-negara berkembang seperti China, Brazil, termasuk juga Indonesia, memiliki hal yang dapat diajarkan kepada mereka. Pentingnya penanggulangan krisis dan keuletan untuk dapat bertahan dari krisis ekonomi mungkin dapat dipertimbangkan sebagai “kurikulum baru” yang harus dipelajari negara maju kepada negara berkembang.

IMF dapat menjadi penggagas “kelas” tersebut, sekaligus panitia penyelenggaranya. Sudah terbukti bahwa institusi ini telah mampu memberikan arahan bagi Eropa dan AS dan memiliki kemampuan agar negara-negara maju tersebut mengesampingkan ego masing-masing dan memberikan kesempatan bagi negara-negara berkembang untuk “memaparkan pelajaran” dengan sebaik-baiknya.

Makin pentingnya peran negara-negara berkembang dalam kancah ekonomi global tercermin dalam komunike IMF pada akhir pertemuan tanggal 10 Oktober lalu. Para investor beramai-ramai mulai mencari akses terhadap para pemangku kebijakan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kesempatan ini telah dimafaatkan dengan baik oleh para petinggi negara-negara berkembang untuk menarik investasi asing yang berjumlah luar biasa ke dalam negeri mereka.

Kenneth Rogoff, professor ekonomi Harvard dan mantan kepala ekonomi IMF menyatakan bahwa meskipun para pemangku kebijakan negara-negara berkembang menyatakan dengan jelas mengenai potensi risiko investasi di negara masing-masing tampaknya para investor dari negara-negara maju tidak gentar sedikitpun untuk menanamkan uang mereka.

Kebuntuan Kebijakan di Negara Maju

Negara-negara maju telah melakukan berbagai ragam kebijakan akan tetapi hingga saat ini masih gagal untuk menciptakan pertumbuhan yang cukup baik untuk menekan angka pengangguran yang tinggi. Kondisi ini disebut oleh kepala investasi PIMCO Mohamed El-Erian sebagai “inersia aktif”.

Para pembuat kebijakan di negara maju menemui kegagalan sebab mereka bertindak dengan menggunakan langkah yang familiar, meskipun tidak efektif.

Negara-negara berkembang “lulusan krisis 1998” telah belajar bahwaoverborrowing dan overleverage adalah hal yang berbahaya. Negara-negara ini telah membangun sebuah cadangan kas yang besar sebagai asuransi diri menghadapi masa depan.

Bisnis dan konsumen di AS juga tampak melakukan hal yang sama saat ini, hal yang telah mengakibatkan frustasi di kalangan pemerintah dan bank sentral yang telah membanjiri sistem keuangan dengan triliunan dollar untuk memulai aktivitas yang dapat mendorong pertumbuhan. Akan tetapi dengan keenganan konsumen untuk melakukan konsumsi dan bisnis untuk melakukan investasi kondisi menimbulkan kebuntuan yang membuat frustasi.

Ada waktunya yang merasa kuat dan superior harus mau belajar dari yang dianggap kecil dan inferior. Mungkin saat ini waktu yang tepat bagi negara maju, dan IMF diharapkan menjadi pihak yang dapat melaksanakan kelas tersebut.

sumber: http://vibiznews.com/news/business/2010/10/12/negara-maju-dan-kaya-harus-siap-belajar-dari-negara-berkembang

One comment

  1. Yup, krisis 98 banyak sekali menelan ”korban”. tapi, justru dari hal itulah, negara-negara kecil dan berkemangan kian sadar akan pentingnya cadangan kas dan arus devisa yang tinggi. contohnya Indonesia, kini negara maju tak bisa meremehkan kekuatan ekonomi indonesia. diproyeksikan 2050 ekonomi indonesia bisa menyokong perekonomian negara-negara maju yang sudah kehabisan bahan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s